, ,

Suasana Haru Penuh Pelukan, Korban TPPO asal Aceh Barat Akhirnya Pulang dari Kamboja

oleh -1027 Dilihat

Pulang ke Pelukan Ibu: Kisah Haru Warga Aceh Barat Korban TPPO yang Berhasil Dipulangkan dari Kamboja

Jeritan Meulaboh–  Suasana haru dan bahagia menyelimuti Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar, pada Jumat (29/8/2025) sore. Setelah berbulan-bulan terperangkap dalam mimpi buruk perdagangan orang di Kamboja, MIS (24), seorang pemuda asal Kabupaten Aceh Barat, akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah kelahirannya. Kedatangannya menandai akhir dari sebuah perjalanan panjang yang penuh penderitaan dan awal dari proses penyembuhan luka batin yang dalam.

MIS tiba sekitar pukul 15.00 WIB dengan menumpang pesawat Super Air Jet dari Jakarta. Raut lelah terpancar jelas, namun itu tenggelam oleh pelukan erat dan tangis bahagia sang ibu yang tak kuasa menahan rindu. Saat bertemu di area Help Desk Balai Pelayanan, Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Aceh, sang ibu langsung memeluk erat anaknya, seolah tak ingin melepaskannya lagi. Adegan mengharukan yang sama terulang ketika MIS bertemu dengan abangnya, menggambarkan betapa beratnya perjuangan keluarga ini untuk mendapatkan kembali orang yang mereka cintai.

Perjalanan Panjang Pulang ke Kampung Halaman

Perjalanan MIS kembali ke Aceh bukanlah proses yang instan. Ini adalah hasil dari upaya berantai yang melibatkan banyak pihak. Pada 27 Agustus 2025, MIS pertama kali berhasil meninggalkan Kamboja menuju Thailand. Sehari kemudian, pada 28 Agustus, ia akhirnya terbang menuju Indonesia dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Banten.

Suasana Haru Penuh Pelukan, Korban TPPO asal Aceh Barat Akhirnya Pulang dari Kamboja
Suasana Haru Penuh Pelukan, Korban TPPO asal Aceh Barat Akhirnya Pulang dari Kamboja

Baca Juga: Komitmen Tangkap Cepat Arahan Presiden, Bupati Tarmizi Gerakkan Pasar Murah untuk Rakyat

Di Jakarta, MIS telah disambut dan difasilitasi oleh staf ahli H. Sudirman, yang akrab disapa Haji Uma, Anggota DPD RI asal Aceh. Setelah menginap semalam untuk memulihkan kondisi, barulah pada keesokan harinya perjalanan terakhir menuju Aceh dilakukan. Peran Haji Uma tidak berhenti di Jakarta; ia juga menanggung biaya tiket pesawat Jakarta-Aceh, akomodasi hotel, dan konsumsi selama transit, serta menyiapkan bekal untuk perjalanan MIS.

Solidaritas Dana untuk Pemulangan

Berdasarkan informasi keluarga, biaya yang menjadi kunci utama pemulangan MIS berasal dari hasil donasi yang digalang oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Keadilan Indonesia (YLBH-KI) Perwakilan Aceh Barat. Sebesar Rp 8,6 juta berhasil dikumpulkan untuk membiayai proses kepulangannya dari Kamboja. Sumbangan ini menjadi bukti nyata solidaritas masyarakat Aceh Barat dalam membantu saudaranya yang tertimpa musibah.

“Mewakili keluarga, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pemulangan adik kami, terutama Haji Uma dan tim serta YLBHI-KI yang telah mengumpulkan donasi untuk biaya pemulangan sehingga hari ini dapat tiba dan berkumpul kembali bersama keluarga,” ucap Azhar, abang ipar MIS, yang mewakili keluarga.

Mimpi Indah yang Berubah Jadi Bencana

Kisah MIS bermula dari janji manis pekerjaan di Singapura dengan gaji tinggi. Seperti banyak korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) lainnya, ia tergiur iming-iming yang pada akhirnya tidak nyata. Alih-alih bekerja di Singapura, ia justru dibawa ke Kamboja dan dipaksa bekerja sebagai scammer atau penipu online. Selama tiga bulan, ia hidup dalam tekanan dan dipaksa melakukan tindak kriminal.

Nasibnya mulai berubah ketika otoritas setempat melakukan penggerebekan. MIS ditangkap dan ditahan oleh otoritas imigrasi Kamboja. Dalam kondisi terpenjara di negeri orang, harapannya hampir punah. Keluarga di Aceh yang mengetahui kabar tersebut kemudian melapor dan meminta bantuan.

Upaya Diplomasi dan Kendala Biaya

Mendapat laporan dari keluarga, H. Sudirman Haji Uma, Anggota DPD RI asal Aceh, segera bergerak. Ia melakukan koordinasi intensif dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh dan menyurati Kementerian Luar Negeri untuk melakukan advokasi dan memastikan perlindungan bagi MIS yang saat itu masih ditahan.

Meski upaya diplomasi berhasil dan MIS dibebaskan untuk dipulangkan, terdapat kendala besar: biaya pemulangan harus ditanggung sendiri oleh keluarga. Kondisi ekonomi keluarga MIS yang tidak mampu hampir menggagalkan kepulangannya. Di titik inilah YLBH-KI Aceh Barat turun tangan dengan menggalang donasi, disusul dengan bantuan tambahan dari Haji Uma untuk melengkapi semua kebutuhan biaya hingga MIS bisa tiba dengan selamat di Aceh.

Imbauan untuk Masyarakat: Hindari Jalur Ilegal

Dalam kesempatan itu, MIS dan keluarganya menyampaikan imbauan penting kepada masyarakat, khususnya para pencari kerja dari Aceh.

“Bagi masyarakat Aceh yang ingin bekerja di luar negeri, baiknya melalui jalur resmi,” pesan Azhar. Imbauan ini ditegaskan kembali oleh MIS berdasarkan pengalaman pahitnya. Ia menekankan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh tawaran kerja dengan gaji tinggi di luar negeri yang didapat melalui jalur tidak resmi.

“Saya telah merasakan bahwa apa yang dijanjikan tidak benar adanya. Berhati-hatilah,” ujar MIS dengan suara lirih, pelajaran berharga yang ia dapat dengan harga yang sangat mahal.

Kepulangan MIS adalah cerita tentang keberhasilan kolaborasi antara masyarakat sipil, lembaga bantuan hukum, dan pemerintah. Namun, ini juga adalah pengingat pahit bahwa kejahatan TPPO masih mengintai dan memerlukan kewaspadaan tinggi dari semua pihak. Pendidikan dan sosialisasi mengenai prosedur migrasi yang aman melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) harus terus digencarkan agar tidak ada lagi warga Aceh yang menjadi korban seperti MIS.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.