, ,

Lembaga Pemasyarakatan Meulaboh Optimalkan Lahan Kosong untuk Ketahanan Pangan.

oleh -1600 Dilihat

Lapas Meulaboh Wujudkan Asta Cita Presiden: Dari Lahan Kosong Menuju Lumbung Pangan Produktif

Jeritan Meulaboh– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Meulaboh tidak lagi hanya sekadar tempat untuk membina dan mengisolasi narapidana. Di bawah terik matahari Aceh Barat, lembaga pemasyarakatan ini telah bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan yang hidup dan produktif, menjadi contoh nyata dalam menindaklanjuti Asta Cita Presiden dan merangkul 13 program akselerasi yang dicanangkan oleh Menteri Hukum dan HAM (Kemenkumham) RI. Fokus utamanya adalah pada poin strategis: memberdayakan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Komitmen ini tidak hanya wacana. Jajaran petugas Lapas Meulaboh bersama-sama dengan para WBP dengan semangat tinggi memanfaatkan setiap jengkal lahan kosong yang tersedia di dalam kompleks lapas. Lahan-lahan yang sebelumnya mungkin hanya ditumbuhi rumput liar atau tidak terurus, kini telah dioptimalkan menjadi area produktif yang hijau dan menghasilkan. Ini merupakan bagian integral dari program pembinaan keterampilan dan kemandirian bagi WBP, menyiapkan mereka untuk kehidupan yang lebih baik pasca-bebas.

“Tidak ada lagi lahan kosong di dalam Lapas Meulaboh. Semua sudah dioptimalkan menjadi area produktif,” tegas Tendi Kustendi, Kepala Lapas (Kalapas) Meulaboh, dengan nada bangga. Pernyataannya bukan tanpa bukti. Pemandangan di dalam lapas kini didominasi oleh hamparan hijau tanaman dan kandang-kandang hewan ternak yang terawat.

Solusi Cerdas dengan Multi-Manfaat

Kalapas Tendi menjelaskan bahwa inisiatif pemanfaatan lahan ini adalah solusi yang tepat guna dan berlipat manfaat. “Pemanfaatan lahan kosong menjadi area produktif di dalam lapas menjadi solusi tepat untuk mengisi waktu warga binaan dengan kegiatan positif sekaligus produktif,” ujarnya.

Manfaatnya jelas terlihat:

  1. Pembinaan dan Pengisian Waktu: Kegiatan ini mengisi waktu luang WBP dengan aktivitas yang konstruktif, mengurangi kejenuhan, dan mencegah perilaku negatif di dalam lapas.

  2. Ketahanan Pangan Internal: Hasil pertanian dan peternakan digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi WBP secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar.

  3. Lingkungan yang Sehat: Transformasi ini menjadikan lingkungan lapas lebih hijau, asri, bersih, dan sehat, yang pada akhirnya berdampak positif pada kesehatan fisik dan mental seluruh penghuni lapas.

  4. Keterampilan Praktis: WBP mendapatkan ilmu dan pengalaman langsung di bidang agrikultur dan peternakan yang sangat berguna untuk bekal berwirausaha setelah mereka kembali ke masyarakat.

Keberagaman Hasil Bumi dan Ternak

Lapas Meulaboh tidak setengah-setengah dalam menjalankan program ini. Beragam jenis tanaman pangan dan hewan ternak dibudidayakan dengan serius. “Adapun area ini telah dijadikan lahan pertanian yang ditanami seperti tumbuhan jagung, terong, edamame, pepaya, mangga, dan kacang tanah. Serta juga dijadikan lahan peternakan seperti ayam dan juga bebek,” rinci Kalapas Tendi.

Lembaga Pemasyarakatan Meulaboh Optimalkan Lahan Kosong untuk Ketahanan Pangan.
Lembaga Pemasyarakatan Meulaboh Optimalkan Lahan Kosong untuk Ketahanan Pangan.

Baca Juga: Suasana Kelas yang Hidup dan Interaktif, Menandai Kedatangan Dua Guru dari Arab di MAN 1 Aceh Barat

Keberhasilan ini tentu bukan diraih tanpa pendampingan yang maksimal. Peran petugas pembina sangat krusial dalam memberikan bimbingan teknis kepada WBP. Mulai dari cara mengolah tanah, memilih bibit, merawat tanaman, hingga menangani hewan ternak dilakukan dengan teknik yang tepat agar menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.

Panen Raya: Bukti Nyata Kesuksesan

Keberhasilan program ini telah membuahkan hasil yang konkret dan dapat diukur. Muhammad Faydiban, selaku Kepala Seksi Pembinaan Narapidana (Binadik) dan Kegiatan Kerja (Giatja) Lapas Meulaboh, turut mengapresiasi kerja keras para petugas dan WBP. Apresiasi ini terutama diberikan pasca dilakukan panen raya jagung yang sukses beberapa waktu lalu.

“Untuk tahun ini hingga bulan Agustus 2025 telah selesai dilakukan panen jagung sebanyak 2 (dua) kali di area lahan brandgang lapas yang mampu menghasilkan sekitar 4000 buah jagung,” tambah Faydiban dengan optimis melihat progres yang ada.

Hasil panen yang melimpah ini dimanfaatkan secara strategis. Sebagian besar digunakan untuk konsumsi internal guna memenuhi kebutuhan gizi dan pangan WBP, sehingga meningkatkan kualitas hidup mereka di dalam lapas. Sementara itu, surplus atau kelebihan hasilnya dijual ke pasar lokal. Hal ini tidak hanya memberikan tambahan pemasukan bagi kas lapas untuk mengembangkan program lainnya tetapi juga secara tidak langsung turut serta menyuplai kebutuhan pangan masyarakat sekitar.

Program pemberdayaan WBP di Lapas Meulaboh untuk mendukung ketahanan pangan adalah contoh ideal dari pembinaan yang berkelanjutan dan memiliki dampak berantai yang positif. Program ini memiliki manfaat ganda yang sangat signifikan: sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan keterampilan hidup (life skill) bagi WBP, sekaligus sebagai tulang punggung ketahanan pangan di dalam lingkungan lapas sendiri.

Lapas Meulaboh telah membuktikan bahwa institusi pemasyarakatan dapat menjadi agen perubahan yang progresif. Dengan semangat mengimplementasikan Asta Cita Presiden dan program akselerasi Kemenkumham, mereka tidak hanya menjalankan tugas untuk membina, tetapi juga memberdayakan, memanusiakan, dan mempersiapkan WBP untuk kembali menjadi bagian produktif dari masyarakat. Langkah ini patut diacungi jempol dan menjadi inspirasi bagi lapas-lapas lainnya di Indonesia untuk bergerak bersama mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.